Wazanmedia.com — Ibrahim bin Yazid pernah mendengar cerita dari seorang lelaki tua di Al-‘Aqiq. Ibrahim bin Yazid berkisah bahwa Lelaki itu berkata, “Aku berdiri di sana, di bawah langit yang membakar, ketika musim haji tiba. Tiba-tiba, aku melihat seorang perempuan naik unta, dikelilingi para pelayannya. Ia turun di depan sebuah istana—megah, dingin, seperti raksasa batu yang menunggu untuk runtuh oleh kenangan. Kami semua menatapnya, sebab kecantikannya seperti belati yang menikam tanpa ampun—tajam, dingin, dan menyisakan perih yang datang belakangan.”
Ia melangkah masuk ke istana itu. Lama. Barangkali sejam. Barangkali lebih.
Ketika akhirnya ia keluar lagi, wajahnya tetap tanpa ekspresi, seperti patung marmer yang tak peduli meski dihujani angin dan debu selama berabad-abad.
Tapi matanya basah, seperti langit yang menahan hujan terlalu lama. Sesuatu telah terjadi di dalam sana—sesuatu yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Ia naik kembali ke untanya, menarik tali kendali, dan pergi begitu saja, meninggalkan kami dengan tanda tanya yang menggantung di udara.
Aku penasaran. Maka aku masuk ke dalam istana itu. Dingin. Lengang. Seperti mulut gua yang sudah lama ditinggalkan penghuni, hanya gema masa lalu yang sesekali berbisik di antara dinding-dindingnya.
Di atas meja, ada sebuah kitab terbuka. Halamannya menghadap ke pintu, seolah siap dibaca oleh siapa pun yang datang membawa pertanyaan di kepalanya. Dengan tinta yang nyaris pudar, di sana tertulis:
“Bukankah cukup bagi orang yang rindu untuk sekadar melihat?” “Tapi rumah-rumah yang ditinggalkan tak pernah benar-benar kosong.” “Rindu seperti api di dalam sekam—semakin ditekan, semakin membakar diam-diam.”
Tulisannya rapi, seperti ditulis oleh tangan yang gemetar. Di bawahnya, sebuah nama tercantum dengan jelas: Aminah binti Umar bin Abdul Aziz.
Aku menarik napas panjang. Kini aku mengerti. Perempuan tadi—yang datang dengan wajah setenang telaga mati dan pergi dengan mata yang menyimpan badai—adalah istri ‘Ashim bin Sufyan.
Ia kembali ke tempat yang pernah menjadi rumahnya, mencari jejak dirinya yang dulu, mencoba melongok ke masa lalu. Tapi yang ditemuinya hanyalah kehampaan.
Rumah-rumah seperti ini, tempat orang pernah mencintai dan kehilangan, tidak lagi menyimpan kehidupan—hanya debu yang mengendap di sudut-sudut, hanya bayangan yang tak bisa dihapus waktu.
Ia pergi, meninggalkan istana yang tak lagi menjadi miliknya. Dan aku, berdiri di dalamnya, menyadari bahwa beberapa rumah memang dibangun bukan untuk dihuni, melainkan untuk mengabadikan kesedihan.