Wazanmedia.com — Di dalam pandangan Al-Ghazali semua pengetahuan berasal dan bersumber dari al-Qur’an. Dengan satu dan lain cara, semua pengetahuan mengalir dari mata air yang satu yaitu al-Qur’an. Pendek kata, sumber semua pengetahuan (apapun bentuknya) yaitu dari Allah Swt.
Termasuk di antara ilmu itu adalah ulum al-sadaf, al-lubab, nahwu, sharraf, kalam, fikih, tasawuf dan lainnya. Tentu saja ada ilmu-ilmu yang kamu mempertanyakan di mana letaknya di dalam al-Qur’an seperti ilmu perdagangan, pertanian, politik, sejarah, filsafat, kedokteran, astronomi, biologi, sihir, perjimatan dan ilmu-ilmu lainnya.
ولعلَّكَ تقول: إن العلوم وراءَ هذه كثيرة، كعلم الطب والنجوم، وهيئة العالم، وهيئة بَدَنِ الحيوان وتشريح أعضائه، وعلم السِّحر والطِّلَّسْمات، وغير ذلك
فاعلم: أنَّا إنما أشرنا إلى العلوم الدينية التي لا بد من وجود أصلها في العالم، حتى يتيسر سلوكُ طريق الله تعالى والسفر إليه
Perihal ilmu-ilmu di atas, apakah tidak terkandung di dalam al-Qur’an? Al-Ghazali mengatakan ilmu-ilmu seperti ilmu sadaf, al-lubab dan seterusnya hanya terbatas pada ilmu keagamaan yang disyaratkan untuk bekal perjalanan ke akhirat (Allah). Sementara ilmu yang lainnya termasuk ilmu juga, akan tetapi bukan kategori ilmu prinsipil yang dibutuhkan untuk keselamatan di dunia dan akhirat.
Kata Gus Ulil, kita harus membuat prioritas. Artinya, dalam pandangan orang beriman, bahwa tujuan pokok hidup ini adalah kembali kepada pencipta dan bersyukur kepeda pencipta juga yaitu Allah Swt. Jelasnya, ilmu yang paling pokok, baik suka atau tidak, adalah ilmu yang menolong kembali kepada sang pencipta.
أما هذه العلوم التي أشرتُ إليها فهي علوم، ولكن لا يتوقف على معرفتها صلاح المَعَاش والمَعَاد، فلذلك لم نذكرها، ووراءَ ما عَدَدْتهُ علومٌ أُخرَ يُعلَم تَراجِمُها ولا يخلو العالم عمن يعرفها، ولا حاجة إلى ذكرها
Anda tahu! Akibat argumen ini, Al-Ghazali sering diperlakukan secara tidak adil; baik oleh orang Islam sendiri maupun Barat. Al-Ghazali dianggap terlalu mementingkan ilmu akhirat daripada ilmu dunia. Hemat penulis, kayaknya orang-orang seperti ini perlu membaca semua karya-karya Al-Ghazali secara rinci agar tidak salah paham.
Penting dicatat, di dalam hierarki nilai yang dianut oleh orang yang beragama (beriman), bahwa kehidupan akhirat jauh lebih tinggi daripada kehidupan di dunia. Akan tetapi, dengan mengatakan demikian tidak berarti kehidupan di dunia ini tidak ada nilainya sama sekali.
Syahdan. Al-Ghazali sendiri menyadari bahwa ilmu-ilmu yang baru akan terus berdatangan sesuai dengan perkembangan zaman. Sebut saja ada ilmu Fisika Material, Tehnik Elektro, Informasi, Linguistik, Programer dan lainnya.
Ada juga ilmu-ilmu yang dulunya ada kemudian menjadi hilang. Seperti ilmu-ilmu pada zaman Persia kuno, Sumeria (peradaban Sumer), Akkadia (kerajaan kuno pertama di Mesopotamia) dan ilmu lainnya.
Demikian juga ada ilmu yang manusia sendiri tidak mampu mengetahuinya, dan hanya sebagian malaikat yang dekat kepada Allah Swt. mengetahuinya. Misalnya, ilmu tentang arasy, kursi, neraka, surga dan lainnya. Kenapa demikian? Karena manusia (dan malaikat) serba terbatas.
بل أقول: ظهر لنا بالبصيرة الواضحة التي لا يُتَمَارى فيها أن في الإمكان والقوة أصنافاً من العلوم بعد لم تخرج من الوجود، وإن كان في قوة الآدَمِيِّ الوصول إليها؛ وعلومٌ كانت قد خرجت إلى الوجود وانْدَرَسَت الآن، فَلَنْ يوجد في هذه الأعصار على بسيط الأرض من يعرفها؛
وعلومٌ أُخَر ليس في قوة البشر أصلاً إدراكُها والإحاطة بها، ويحظَى بها بعضُ الملائكة المُقَرَّبين، فإن الإمكانَ في حق الآدَمِيِّ محدود، والإمكانَ في حق المَلَك محدود إلى غاية في الكمال بالإضافة، كما أنه في حق البهيمة محدود إلى غاية في النقصان، وإنما الله سبحانه هو الذي لا يَتَنَاهَى العلمُ في حقه
Berbeda dengan ilmunya Allah Swt. yang tidak ada batasnya. Sama sekali tidak mengenal tahap al-quwwah wa al-imkan (potensial), dalam hal ini pengetahuan Allah Swt. selalu aktual. Ibarat padi, ia sudah langsung ada buahnya, tidak menjadi benih.
ويفارق عِلمَنَا عِلْمُ الحقِّ تبارك وتعالى في شيئين: أحَدُهما انتفاءُ النهاية عنه، والآخَرُ أن العلوم ليست في حقه بالقوة والإمكان الذي يُنْتَطَرُ خروجُه بالوجود، بل هو بالوجود والحُضُور، فكل مُمْكِنٍ في حقه من الكمال فهو حاضرٌ موجود
بل هذه العلوم التي عددناها وما لم نعدها ليست أوائِلُها خارجةً عن القرآن، فإن جميعها مُغْتَرَفَةٌ من بحر واحد من بحار معرفة الله تعالى، وهو بحرُ الأفعال
Gus Ulil mengatakan, sumber semua ilmu diambil dari af’alullah. Dan andaikan af’alullah ditulis dengan tinta dari air lautan, maka air lautan itu akan habis sebelum af’alullah selesai dituliskan.
Termasuk dalam af’alullah adalah adanya orang sakit dan sembuh. Sebagaimana, ketika Nabi Ibrahim ditanya, “Siapa Tuhanmu?” Kata Nabi Ibrahim, “Tuhanku adalah Tuhan yang membuat aku sembuh dari sakit.”
وقد ذكرنا أنه بحرٌ لا ساحلَ له، وأن البحر لو كان مداداً لكلماته لنَفِدَ البحر قبل أن تَنْفَد. فمن أفعال الله تعالى وهو بحرُ الأفعال مثلاً الشفاء والمرض، كما قال الله تعالى حكايةً عن إبراهيم عليه السلام: وَإِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِينِ
Hal lain yang termasuk dalam kategori af’alullah adalah mengukur jalannya matahari dan rembulan. Dalam hal ini, antara matahari dan rembulan diciptakan begitu rupa, sehingga memiliki tempat spesifik pada waktu dan ukuran tertentu.
ومن أفعاله تبارَكَ وتعالى تقديرُ معرفة الشمس والقمر ومنازِلِهما بِحُسبان، وقد قال الله تعالى: الشمس والقمر بِحُسْبَانٍ ؛ وقال: وَقَدَّرَهُ مَنَازِلَ لِتَعْلَمُواْ عَدَدَ السنين والحساب ؛ وقال: وَخَسَفَ القمر * وَجُمِعَ الشمس والقمر ؛ وقال: يُولِجُ الليل فِي النهار وَيُولِجُ النهار فِي الليل ؛ وقال: والشمس تَجْرِي لِمُسْتَقَرٍّ لَّهَا ذَلِكَ تَقْدِيرُ العزيز العليم