Wazanmedia.com — Jika ada dua hal terjadi secara bersamaan, maka itu tidak berarti yang satu menjadi penyebab yang lain. Misalnya, ada matahari terbit lalu ada ayam ada berkokok, maka itu tidak berarti salah satunya menjadi penyebab yang lain. Dalam hal ini, berkokoknya ayam bukan karena adanya matahari terbit (tidak ada hubungan kausatif). Dengan kata lain, di waktu siang dan tengah hari pun ayam juga bisa berkokok.
كل شيئين لا ارتباط لأحدهما بالآخر، ثم اقترنا في الوجود فليس يلزم من تقدير نفي أحدهما انتفاء الآخر. فلو مات زيد وعمرو معاً ثم قدرنا عدم موت زيد لم يلزم منه لا عدم موت عمرو ولا وجود موته
Sama, misalnya Zaid meninggal pada saat gerhana matahari. Dua peristiwa terjadi secara bersamaan belum tentu menjadi peristiwa kausalitas; yang satu menyebabkan yang lain. Sekali lagi, dalam kasus Zaid meninggal saat gerhana, maka itu tidak ada hubungan kausalitas. Artinya, korelasinya hanya bersifat insidental (kebetulan). Oleh karena itu, sekiranya tidak ada matahari, maka otomatis Zaid tidak akan meninggal, dan sebaliknya.
وكذلك إذا مات زيد عند كسوف القمر مثلاً، فلو قدرنا عدم الموت لم يلزم عدم الكسوف بالضرورة، ولو قدرنا عدم الكسوف لم يلزم عدم الموت إذ لا ارتباط لأحدهما بالآخر
Bagaimana jika sekarang ada hubungan?
Gus Ulil mengatakan, jika ada hubungan kausalitas (sebab dan akibat), maka ada tiga status. Pertama, dua hal terjadi secara bersamaan dan keduanya saling berhubungan. Kondisi yang pertama ini bersifat mutakafi’ (seimbang). Misalnya, ada kanan-kiri, atas-bawah, siang-malam, langit-bumi dan seterusnya.
أن تكون العلاقة متكافئة كالعلاقة بين اليمين والشمال والفوق والتحت، فهذا مما يلزم فقد أحدهما عند تقدير فقد الآخر لأنهما من المتضايفان التي لا يتقوم حقيقة أحدهما إلا مع الآخر
Jika sesuatu seperti ini dan apabila yang satu tidak ada, maka otomatis yang satunya tidak ada. Begitu juga sebaliknya, jika satunya ada, maka yang lain juga ada (karena hubungannya bersifat sebab akibat).
Dengan kata lain, jika ada arah kanan, maka otomatis pasti ada arah kiri. Sebab itulah jika arah hanya adanya satu, maka itu tidak bisa disebut kanan atau kiri. Jelasnya, keberadaan yang satu mengharuskan adanya yang lain, dan ketiadaan yang satu mengharuskan ketiadaan yang lain.
Kedua, seperti wudhu’ dan shalat. Wudhu’ adalah syarat jika mau melaksanakan shalat (syarat yang harus dilakukan sebelum shalat), sementara shalat adalah masyrut. Berbeda dengan takbiratul ihram yang tidak disebut syaratnya shalat. Karena takbiratul ihram, membaca fatihah, rukuk dan seterusnya masuk dalam kategori rukun. Adalah pekerjaan yang ada di dalam pekerjaan (shalat).
Seperti halnya orang yang tidak mempunyai nyawa, maka ia tidak bisa hidup. Karena itu, hidup adalah syarat untuk memiliki pengetahuan (al-hayat dan al-ilm). Artinya, jika Anda tidak hidup, lalu bagaimana mungkin Anda bisa mempunyai pengetahuan? Bisa belajar karena Anda hidup. Oleh karena itu, jika yang satu tidak ada, maka yang lain otomatis tidak ada.
أن لا يكون على التكافؤ، لكن لأحدهما رتبة التقدم كالشرط مع المشروط. ومعلوم أنه يلزم عدم الشرط، فإذا رأينا علم الشخص مع حياته وإرادته مع علمه
فيلزم لا محالة من تقدير انتفاء الحياة انتفاء العلم، ومن تقدير انتفاء العلم انتفاء الارادة، ويعبر عن هذا بالشرط وهو الذي لا بد منه لوجود الشيء ولكن ليس وجود الشيء به بل عنه ومعه
Akan tetapi, kata Gus Ulil, tidak bisa dibalik antara intifa’ al-masyrut tidak berarti intifa’ al-syart. Jika hubungan bersifat hierarkis yaitu yang satu lebih atas dan satunya lebih bawah, lalu yang atas tidak ada (syarat), maka yang bawah (masyrut) juga hilang. Kenapa? Karena secara kedudukan syarat (wudhu’) lebih tinggi daripada masyarut (shalat). Misalnya, Anda tidak bisa melakukan shalat jika belum ber-wudhu’.
Akan tetapi, jika masyrut-nya hilang, maka tidak otomatis syarat-nya hilang. Seperti, Anda tidak shalat belum tentu karena tidak mempunyai wudhu’. Boleh jadi Anda wudhu’ tetapi tidak shalat.
Termasuk juga, jika Anda tidak mempunyai pengetahuan, maka Anda tidak bisa berkehendak. Mana mungkin Anda mengerti soal urusan lontong sayur, dan tidak mungkin berkeinginan memakannya. Dengan kata lain, Anda ingin makan lontong sayur karena ada makanan seperti itu. Jelasnya, iradah mengandaikan adanya ilmu; ilmu adalah syarat-nya dan iradah adalah masyrut-nya.
Ketiga, Adalah kondisi sebab yang menghasilkan akibat dan jika tidak ada sebab maka tidak akan ada akibat. Hubungan dua hal yang bersifat kausalitas. Jika illat-nya tidak ada, maka ma’lul-nya juga tidak ada. Seperti, jika tidak ada matahari, maka cahaya matahari juga tidak ada (matahari dan sinarnya). Jelasnya, asal sesuatu itu illat-nya hanya satu.
Contoh lain, seperti air mendidih karena mengalirnya panas dan air tidak mungkin bisa mendidih dengan cara selain ini. Kondisi lain berupa akibat bisa terjadi karena ada beberapa sebab yang berbeda. Misalnya, reuni bisa terjadi karena ada 10 panitia yang bekerja dan reuni juga bisa terjadi walau kurang dari 10 panitia yang bekerja. Wallahu a’lam bisshawab.