Wazanmedia.com — Abu al-‘Abbas Abdullah bin Al-Mu’tazz Billah anak yang lahir di Samarra 247 H dan wafat di Bagdad 296 H, dan merupakan seorang khalifah di pemerintahan Abbasiyah. Namun kekuasannya hanya berlangsung selama satu hari satu malam. Ia dikenal sebagai sastrawan dan penyair.
Malam itu, Al-Mu’tazz Billah, Amirul Mukminin, terbaring di ranjangnya. Demam membuat tubuhnya lemas seperti kain basah yang dijemur di tempat teduh—lembap, berat, dan tak kunjung kering.
Tapi ia bukan tipe orang yang merintih karena sakit. Yang membuatnya lebih tersiksa adalah sesuatu yang bahkan tabib terbaik pun tak bisa obati.
Ketika aku masuk dan memberi salam, ia hanya melirik sekilas, lalu berkata dengan suara serak, “Wahai Abu Abdullah, tadi malam aku menulis beberapa bait puisi.
Kilas Senandung Syair
Tapi ada satu yang buntu. Aku seperti kucing yang sudah memanjat genting, tapi tak tahu cara turun.”
Aku menarik kursi, duduk di dekatnya. “Coba bacakan.”
Ia berdeham sebentar, lalu mulai melantunkan bait-baitnya dengan suara parau:
Aku tahu cara mengobati nyeri di dada, tapi tak tahu cara menyembuhkan luka cinta.
Aku bertahan menanggung panasnya demam, tapi tersiksa saat berhadapan dengan rindu.
Jika ada orang yang bisa melupakan cinta karena sakit, aku tak bisa. Rinduku padamu tak memudar meski tubuhku lemah.
Aku diam. Di luar, angin malam berembus, membawa suara pedagang roti yang baru pulang dari pasar, menggerutu tentang harga gandum yang naik lagi. Aku berpikir sejenak, lalu berkata pelan:
Tak pernah aku bosan semalam suntuk bersama kekasih,
Ah, andai kekasih juga bersamaku malam ini…
Al-Mu’tazz menatapku lama, seolah-olah aku baru saja memberinya ramuan pahit yang ia tahu akan menyembuhkan, tapi tetap tak ingin ia telan. Lalu ia tersenyum kecil. Senyum seorang pedagang yang baru sadar bahwa ia telah memberi barang terbaiknya secara Cuma-Cuma.
Ia mengangkat tangannya sedikit, memberi isyarat pada seorang pengawal. “Berikan seribu dinar untuk bait itu.”
Aku menerimanya tanpa berkata apa-apa. Di luar, suara pedagang roti masih terdengar samar-samar, kini mengumpat karena keledainya tiba-tiba mogok di tengah jalan. Aku ingin tertawa, tapi entah kenapa rasanya tak pantas.
Mungkin besok Al-Mu’tazz akan sembuh. Mungkin juga tidak. Tapi satu hal yang pasti, cinta dan sakit punya satu kesamaan: sama-sama tak bisa benar-benar disembuhkan, hanya bisa dibiasakan.