Wazanmedia.com — cacatnya jiwa atau penyakit pertama adalah ilusi keselamatan. Apa maksud ilusi keselamatan? Oke saya jelaskan pelan-pelan. Ilustrasi yang umum dan mudah dipahami itu semisal kamu, ya, kamu khusuk berzikir tiap malam dengan perut kenyang melalui salam templek dari jamaah mu, dan setiap malam pula tetanggamu menjerit kelaparan. Semakin keras dzikirmu maka semakin keras pula ranguan tangis tetanggamu. Semakin dzikirmu mendayu-dayu, semakin melilit pula perihnya kelaparan dalam perut tetanggamu.
Lalu kau merasa jelmaan doa-doa para ulama, kaum miskin proletariat dan tertindas, yaitu manusia bahagia dunia akhirat. Berkah dunia dan akhirat. Bahagia dan berkah dunia, karena pundi-pundi kekayaan terus melimpah. Bahagia dan berkah akhirat, karena kau mendawamkan zikir-zikir yang terucap dari mulutmu sebagai bentuk syukur.
Dzikirmu tidak salah, tapi kau melupakan tetanggamu yang terus menjerit dalam sela-sela dentingan dzikirmu. Kau tak pernah dengar jeritan tangis tetanggamu yang lapar lantaran bisingnya dzikirmu, lalu kau bilang itu bentuk syukur? Itulah ilusi keselamatan.
Memgapa demikian? Karena kau berilusi dengan zikirmu bahwa itu adalah keselamatan tanpa kau paduli bahwa kelaparannya tetangga adalah malapetaka.
Syekh as-Sulami menjelaskan aib atau penyakit jiwa pertama yaitu ilusi keselamatan. Beliau mengutip hadis Nabi dan kisah lainnya sebagai penjelasan.
مِنْ عُيُوبِ النَّفْسِ تَوَهُّمُ النَّجَاةِ
Di antara penyakit jiwa adalah ilusi keselamatan.
أَخْبَرَنَا عَلِيُّ بْنُ عَمْرٍو، قَالَ: حَدَّثَنَا عَبْدُ الْجَبَّارِ بْنُ شِيرَازَ، قَالَ: حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ الْحَسَنِ بْنِ أَبَانَ، قَالَ: حَدَّثَنَا أَبُو عَاصِمٍ، قَالَ: حَدَّثَنَا شُعْبَةُ وَسُفْيَانُ، عَنْ سَلَمَةَ بْنِ كُهَيْلٍ، عَنْ أَبِي سَلَمَةَ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، أَنَّهُ قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:
“الْبَلَاءُ وَالْهَوَىٰ وَالشَّهْوَةُ مَعْجُونَةٌ بِطِينَةِ آدَمَ”.
“Ali bin Amr mengabarkan kepada kami, ia berkata: “Abdul Jabbar bin Syiraz menceritakan kepada kami, ia berkata: ‘Ahmad bin al-Hasan bin Aban menceritakan kepada kami, ia berkata: ‘Abu ‘Ashim menceritakan kepada kami, ia berkata: ‘Syu‘bah dan Sufyan menceritakan kepada kami dari Salamah bin Kuhail dari Abu Salamah dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: “Bala, hawa nafsu, dan syahwat telah tercampur dalam tanah penciptaan Adam.”
Anotasi
Manusia seringkali lalai bahwa dalam dirinya juga mengalir hawa nafsu dan syahwat, yang siaga menjerumuskannya. Bahkan dalam berzikir pun, bila tidak ingat asal muasal penciptaan dirinya maka hanyalah ilusi.
Bagaimana mungkin punya pikiran Tuhan menutup rahmatnya sehingga perlu dibuka dengan kunci zikir? Padahal Tuhan tak membuka lebar pintu rahmat tersebut.
Itulah sebuah ilusi yang sering kali lalai bahwa dalam diri manusia ada komposisi tanah hawa nafsu. Sehingga merasa dirinya punya daya melalui zikir untuk membuka pintu rahmat Tuhan, padahal kau sendiri yang menutup karena melupakan penciptaan. Dirimulah yang perlu dibuka!
Inilah kritik yang dilayangkan Rabiah kepada Shalih al-Marri sebagaimana Syekh as-Sulami mengutipnya.
فَمِنْ عُيُوبِ النَّفْسِ أَنَّهَا تَتَوَهَّمُ أَنَّهَا عَلَىٰ بَابِ نَجَاتِهَا، تَقْرَعُ الْبَابَ بِفُنُونِ الْأَذْكَارِ وَالطَّاعَاتِ، وَالْبَابُ مَفْتُوحٌ، وَلَكِنَّهَا أَغْلَقَتْ بَابَ الرُّجُوعِ عَلَىٰ نَفْسِهَا بِكَثْرَةِ الْمُخَالَفَاتِ،
“Di antara cacat jiwa adalah beranggapan bahwa ia berada di pintu keselamatannya. Mengetuk pintu dengan berbagai zikir dan ketaatan, padahal pintu itu terbuka. Tetapi ia sendiri yang menutup pintu kembali kepada Allah karena banyaknya penyimpangan (oleh hawa nafsu).
كَمَا أَخْبَرَنِي الْحَسَنُ بْنُ يَحْيَىٰ، قَالَ: سَمِعْتُ جَعْفَرَ بْنَ مُحَمَّدٍ يَقُولُ: سَمِعْتُ ابْنَ مَسْرُوقٍ يَقُولُ: مَرَّتْ رَابِعَةُ بِمَجْلِسِ صَالِحِ الْمَرِّي، فَقَالَ صَالِحٌ: “مَنْ أَدْمَنَ قَرْعَ الْبَابِ يُوشِكُ أَنْ يُفْتَحَ لَهُ”، فَقَالَتْ رَابِعَةُ: “الْبَابُ مَفْتُوحٌ، وَأَنْتَ تَفِرُّ مِنْهُ، فَكَيْفَ تَصِلُ إِلَىٰ مَقْصِدِكَ وَقَدْ أَخْطَأْتَ الطَّرِيقَ مِنْ أَوَّلِ قَدَمٍ؟:
“Sebagaimana yang dikisahkan kepadaku oleh al-Hasan bin Yahya, ia berkata: “Aku mendengar Ja‘far bin Muhammad berkata: ‘Aku mendengar Ibnu Masruq berkata: Rabiah al-Adawiyah melewati majelis Shalih al-Murri, lalu Shalih berkata: “Barang siapa terus-menerus mengetuk pintu, maka hampir saja ia akan dibukakan.” Rabiah menjawab: “Pintunya terbuka, tetapi engkau sendiri yang lari darinya! Bagaimana mungkin engkau akan sampai ke tujuanmu, sementara engkau telah salah jalan sejak langkah pertama?”
فَكَيْفَ يَنْجُو الْعَبْدُ مِنْ عُيُوبِ نَفْسِهِ وَهُوَ الَّذِي أَطْلَقَ لَهَا الشَّهَوَاتِ؟ أَمْ كَيْفَ يَنْجُو مِنِ اتِّبَاعِ الْهَوَىٰ وَهُوَ لَا يَنْزَجِرُ عَنِ الْمُخَالَفَاتِ؟
“Bagaimana mungkin seorang hamba bisa selamat dari penyakit jiwanya, sementara ia sendiri yang melepaskan kendali bagi syahwatnya? Bagaimana mungkin ia bisa selamat dari mengikuti hawa nafsu, sementara ia tidak menahan dirinya dari berbagai penyimpangan perilaku?”
سَمِعْتُ مُحَمَّدَ بْنَ أَحْمَدَ بْنِ حَمْدَانَ يَقُولُ: سَمِعْتُ مُحَمَّدَ بْنَ
إِسْحَاقَ الثَّقَفِيَّ يَقُولُ: سَمِعْتُ ابْنَ أَبِي الدُّنْيَا يَقُولُ
قَالَ بَعْضُ الْحُكَمَاءِ: “لَا تَطْمَعْ أَنْ تَصْحُوَ وَفِيكَ عَيْبٌ، وَلَا تَطْمَعْ أَن تَنْجُوَ وَعَلَيْكَ ذَنْب”.
“Aku mendengar Muhammad bin Ahmad bin Hamdan berkata: “Aku mendengar Muhammad bin Ishaq ats-Tsaqafi berkata: ‘Aku mendengar Ibnu Abi Dunya berkata: “Sebagian ahli hikmah berkata: ‘Jangan berharap bisa selamat, sementara dalam dirimu masih ada penyakit; dan jangan berharap bisa lolos, sementara masih ada dosa yang menimpamu.'”
Cara Mengobati
وَمُدَاوَاةُ هَذِهِ الْحَالَةِ بِمَا قَالَهُ سَرِيُّ السَّقَطِيِّ، وَهُوَ:
“سُلُوكُ سَبِيلِ الْهُدَىٰ، وَطِيبُ الْغِذَاءِ، وَكَمَالُ التُّقَىٰ”.
“Cara mengobati keadaan ini sebagaimana yang dikatakan oleh Sari as-Saqathi, yaitu: “Menempuh jalan petunjuk, menjaga makanan agar halal dan baik, serta menyempurnakan ketakwaan.”
Perbandingan lain, ketika manusia sedang stres ia pun menangis dan bisa merasa lega sebab tangisan itu.
وَمِنْ عُيُوبِهَا: إِذَا بَكَتْ تَفَرَّجَتْ، ثُمَّ وَاسْتَرَاحَتْ، وَمُدَاوَاتُهَا مُلَازَمَةُ الْكَمَدِ مَعَ الْبُكَاءِ، حَتَّىٰ لَا يَفْزَعَ إِلَىٰ الِاسْتِرَاحَةِ.
فَهُوَ أَنْ يَبْكِيَ فِي الْحُزْنِ ذُلًّا، وَلَا يَبْكِيَ مِنَ الْحُزْنِ لِيَسْتَرِيحَ مِنْ بُكَائِهِ، وَمَنْ بَكَىٰ فِي الْحُزْنِ زَادَهُ الْبُكَاءُ كَمَدًا وَحُزْنًا.
Di antara cacat jiwa lainnya adalah ketika ia menangis, ia merasa lega, lalu menikmati kelegaan tersebut. Obatnya adalah terus merasakan kesedihan bersama tangisan, hingga tidak menjadikan tangisan sebagai sarana untuk mencari kelegaan. Seseorang hendaknya menangis dalam kesedihan sebagai bentuk kehinaan di hadapan Allah, bukan menangis untuk sekadar mencari ketenangan. Karena orang yang menangis dalam kesedihan, akan semakin bertambah kesedihan dan pedihnya.
[أَبُو عَبْدِ الرَّحْمَنِ السُّلَمِيُّ، عُيُوبُ النَّفْسِ، صَفْحَةٌ ٦-٧]
[Abu Abdurrahman as-Sulami, ‘Uyub an-Nafs, halaman 6-7]