Wasanmedia.com — Siapa yang belum pernah mendengar hadis dalam salah satu kitab, yg bunyinya Man Arafa Nafsahu Arafa Rabbahu – “Barang siapa yang mengenal dirinya maka mengenal Tuhannya”? Saya sendiri jauh sebelum nyantri sudah mendengarkan dari lontaran para da’i yang kadang sampai berbuih mulutnya. Beberapa teman juga mengutip meskipun kebalik-balik, terkadang hanya hafal sebagian awal atau akhir dari redaksi hadisnya.
Dan tak sedikit, saya kira, orang mempertanyakan gerangan apa yang ingin dikenal dalam jati dirinya. Sehingga menjadi pintu perkenalan dengan Tuhannya. Beragam jawabannya, mungkin saja, sudah disuguhkan oleh para ulama. Dan menurut saya, antara lain, adalah mengenal keburukan dan aib jiwa kita sendiri.
Tidak usah mengacungkan tangan dan interupsi. Berarti fitrahnya manusia itu buruk? Sebagaimana gagasan teori lapis luar-nya Thomas Hobbes (1588 – 1679) yang masyhur dengan statementnya yang banyak dikutip. “Sifat manusia pada dasarnya kejam dan egois”. Saya tidak bilang begitu! Karena jauh sebelum itu, Imam al-Ghazali juga berteori bahwa manusia terdiri dari unsur yang jahat dan baik, yang mana saling menarik menarik. Katanya begitu.
Manusia dalam Munajat Syekh Ibnu Athaillah
Terlepas dari itu, pernahkah dengar tidak munajatnya Syekh Ibnu Atha’illah dalam Hikamnya yang mendefinisikan manusia?
إلهي من كانت محاسنه مساوي فكيف لا تكون مساويه مساوي
“Tuhanku, manusia yang kebaikannya saja adalah keburukan, bagaimana buruknya tidak jadi keburukan?”
Nah menurut saya, dengan mengenal keburukan yang bersembunyi di balik lapisan irisan jiwa mau tidak mau mesti mengenal obat dari keburukan jiwa. – yang itu adalah sisi kebaikan seseorang. Dengan mengenal dua aspek itu dari diri kita masing-masing, insyallah, akan mengenal Tuhan dalam versi yang anti mainstream.
Oleh karena itu, beberapa ulama concren menulis dan menjelaskan unsur negatif atau aib-aib atau penyakit-penyakit jiwa. Salah satu kitab yang menjelaskan masalah itu adalah kitab “Uyūb al-Nafsi” karya seorang sufi bernama lengkap Abu Abdurrahman as-Sulami (325 – 412 H = 936 – 1021 M).
Latar Belakang Kitab
Latar belakang dari kitab itu, selain untuk mendidik umat untuk belajar mengenal dirinya yang membawa pada perkenalan dengan Tuhannya – bagaimana bunyi hadis yang saya kutip di muka – , juga memenuhi permintaan langsung dari guru-gurunya Syekh as-Sulami. serupa maklum, yang namanya permintaan guru sulit ditolak, lebih sulit daripada menolak permintaan si doi bukan? Apalagi menyangkut persoalan umat. Tentu saja, kitab ini ditulis oleh Syekh as-Sulami setelah beliau melakukan istikharah.
Maka simaklah muqaddimah kitab ini terlebih dahulu. Dimana pengarangnya mengungkapkan latar belakang dan tujuan dari penulisan kitab tersebut. Untuk kelanjutan isi kitabnya, bisa menyusul.
Kitab Muqaddimah
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي عَرَّفَ أَهْلَ صَفْوَتِهِ عُيُوبَ أَهْلَ الْيَقَظَةِ وَالِانْتِبَاهِ لِمَوَارِدِ الْأَحْوَالِ عَلَيْهِمْ، وَوَفَّقَهُمْ لِمُدَاوَاةِ عُيُوبِهَا وَمَكَامِنِ فَيَسْهُلُ عَلَيْهِمْ مِنْ ذِكْرِ التَّفْسِيرِ بِفَضْلِهِ وَحُسْنِ تَوْفِيقِهِ
Segala puji bagi Allah yang telah memperkenalkan kepada orang-orang pilihan-Nya aib-aib diri mereka, memuliakan mereka dengan menelaah alasan-alasannya, menjadikan sebagai orang-orang yang sadar dan waspada terhadap berbagai timpaan situasi dan keadaan (jiwannya). Serta Allah memberi taufik mereka untuk mengobati aib-aib tersebut dan sumber-sumber kejahatannya dengan obat-obatan yang tidak dapat diketahui (samar) kecuali oleh orang-orang yang memiliki kesadaran, sehingga dengan karunia-Nya dan taufik-Nya, mereka dimudahkan untuk menjelaskan tafsirnya.”
Latar Belakang Buku
وَبَعْدُ فَقَدْ سَأَلَنِي بَعْضُ الْمَشَايِخِ – أَكْرَمَهُ اللَّهُ بِمَرْضَاتِهِ – أَنْ أَجْمَعَ فُصُولًا فِي عُيُوبِ النَّفْسِ يُسْتَدَلُّ بِهَا عَلَىٰ مَا وَرَاءَهَا، فَأَسْعَفْتُهُ بِطَلِبَتِهِ، وَجَمَعْتُ لَهُ هَذِهِ الْفُصُولَ الَّتِي أَسْأَلُ اللَّهَ تَعَالَىٰ أَنْ لَا يَعْدِمَنَا بَرَكَتَهَا، وَذَٰلِكَ بَعْدَ أَنْ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ، الصَّلَاةُ عَلَىٰ نَبِيِّهِ الْكَرِيمِ وَآلِهِ
“Adapun setelah itu, sesungguhnya sebagian para masyaikh – semoga Allah memuliakannya dengan restu-Nya – telah memintaku untuk mengumpulkan beberapa bab tentang aib-aibnya jiwa agar dapat dijadikan petunjuk dalam memahami hal-hal yang tersembunyi di baliknya. Maka aku memenuhi permintaannya dan mengumpulkan bab-bab ini. Aku memohon kepada Allah Ta’ala agar tidak menjadikan kami kehilangan keberkahannya. Hal itu kulakukan setelah aku memohon petunjuk (istikharah) kepada Allah dan meminta taufik-Nya. Dialah sebaik-baik penolong dan wakil. Semoga shalawat tercurah kepada Nabi-Nya yang mulia, beserta keluarga dan sahabatnya, serta salam yang sempurna.”
قَالَ اللَّهُ تَعَالَىٰ: {إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ}، وَقَالَ تَعَالَىٰ: {وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَىٰ}، وَقَالَ: {أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَٰهَهُ هَوَاهُ}، وَغَيْرُ هَذَا مِنَ الْآيَاتِ مَا يَدُلُّ عَلَىٰ شُرُورِ النَّفْسِ وَقِلَّةِ رَغْبَتِهَا فِي الْخَيْرِ.
[أَبُو عَبْدِ الرَّحْمَنِ السُّلَمِيُّ، عُيُوبُ النَّفْسِ، صَفْحَةٌ ٥]
“Allah Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya jiwa itu selalu diperintahkan kepada kejahatan.” (QS. Yusuf: 53). “Dan ia mencegah jiwa dari hawa nafsunya.” (QS. An-Nazi’at: 40). “Maka pernahkah engkau melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya?” (QS. Al-Jasiyah: 23). Dan selain ayat-ayat ini, masih banyak lagi yang menunjukkan tentang keburukan jiwa dan miminya keinginan jiwa dalam diri. as-Sulami, ‘Uyub an-Nafs, halaman 5]”.
Demikianlah muqaddimah kitab “Uyūb al-Nafsi“