Wazanmedia.com — Apa itu hakikatnya dunia? Kenapa manusia sibuk mengurus dunia sehingga lupa kepada Allah Swt. Serta dirinya sendiri? Yang jelas, kata Gus Ulil, dunia dikatakan dunia karena meliputi tiga unsur. Pertama, karena ada wujudnya (a’yan maujudah); kedua, kita memiliki kepentingan (ada kepentingannya); ketiga, kita melakukan sesuatu untuk mendapatkannya (effort).
Gus Ulil mengatakan bahwa hubungan manusia dengan dunia sangat menarik dalam dua level. Pertama, hubungan yang sifatnya sangat dekat melalui hati (intimate). Kita jatuh cinta dan menyukai kepada barang. Misalnya masuk atau jalan ke Mall dan lainnya.
Memang sebetulnya tidak ada niatan untuk membeli apa pun, akan tetapi ketika melihat barang ini dan itu, ia langsung berkata “itu kok menarik sih!”. Ia langsung jatuh hati pada barang itu. Begitulah cara manusia menyukai barang (alaqah maa al-qalb).
Kedua, hubungan pada tingkat badan. Ia sibuk untuk memperbaiki dan merawat barang atau benda-benda supaya layak dipakai (ishlah al-a’yan). Sangat tidak mungkin seseorang kalau sudah beli mobil akan ditaruk di garasi selamanya. Tentu saja ia akan membeli peralatan-peralatan lain supaya awet, apalagi kalau orang senang modifikasi. Tidak akan pernah selesai.
Terkadang mengurusi barang yang remeh-temeh tak jarang membuat seseorang lupa pada tujuan hidupnya, bahkan pada Tuhannya. Ia beranggapan bahwa seolah-seolah hidup itu hanya mengurusi barang ini dan itu.
Dalam hal ini, bukan berarti manusia tidak boleh merawat apalagi membeli barang-barang. Tidak. Hanya saja, yang dimaksud Al-Ghazali adalah jangan sampai barang-barang atau benda-benda itu menjadi tujuan hidup sejati kemudian melupakan kebutuhan yang lainnya.
Sederhananya, pertama-pertama manusia akan jatuh hati pada barang, kemudian ia akan berusaha untuk meraih mendapatkannya, setelahnya ia akan sibuk mengurusi barang-barang yang dibelinya sehingga lupa akan tujuan hidupnya. Tak terkecuali ia lupa akan asal-usulnya serta tempat kembalinya di akhirat (karena ia sibuk sikologis/mental dan sibuk fisik).
Andaikan manusia paham sejatinya dunia, maka ia pasti akan meninggalkannya. Sebab, dunia itu diciptakan hanya untuk makanannya badan, yang badan itu merupakan kendaraan untuk perjalanan jauh sekali menuju Allah Swt.
Tentu saja, badan tidak mungkin bisa bertahan hidup tanpa makanan, minuman, pakaian, tempat tinggal dan lainnya. Ia seperti binatang unta pada saat musim Haji yang tidak mampu berjalan di padang pasir tanpa makanan, air minum dan pelana punggung (lemek). Demikian juga kita hidup di dunia (menanti dan menuju perjalanan ke akhirat).
Dari sini kita tahu, bahwa ketika manusia melakukan perjalanan menuju akhirat, maka ia harus mempersiapkan kendaraan. Apa kendaraannya? Adalah badan kita, yang oleh Al-Ghazali diumpamakan seperti unta yang ditunggangi. Dan supaya badan bisa kuat maka harus dirawat sebaik-baiknya. Itulah kenapa merawat badan sangat penting, karena badan adalah “untanya” manusia untuk menuju akhirat.
والحاج البصير لا يهمه من أمر الجمل إلا القدر الذي يقوى به على المشي فيتعهده وقلبه إلى الكعبة والحج وإنما يلتفت إلى الناقة بقدر الضرورة
Kata Al-Ghazali, seorang yang pergi haji dan tajam penglihatan mata batinnya, maka ia tidak mungkin sibuk mengurus unta kecuali hanya sekedarnya saja, dan memungkinkan kuat untuk berjalan. Kenapa demikian? Karena hatinya sudah melekat dan menuju pada Ka’bah bukan sibuk mengurus unta. Jelasnya, ia hanya memperhatikan untanya sekedar kebutuhan pokoknya saja.
Artinya, kata Gus Ulil, kita membutuhkan dunia itu sekedarnya. Dalam hal ini sekedar badan bisa mengantarkan ke sana. Jangan berlebih-lebihan, karena badan manusia bukan tujuan pada dirinya, melainkan ia hanyalah sebagai instrumen jiwa dan roh kita untuk membawa ke akhirat kelak.
Bukankah dalam al-Qur’an surat Al-Hadid ayat 20 dan Al-An’am ayat 32 sudah jelas. Allah Swt. berfirman:
اِعْلَمُوْۤا اَنَّمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَّلَهْوٌ وَّزِيْنَةٌ وَّتَفَاخُرٌۢ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِى الْاَمْوَالِ وَالْاَوْلَادِ ۗ كَمَثَلِ غَيْثٍ اَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهٗ ثُمَّ يَهِيْجُ فَتَرٰٮهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُوْنُ حُطٰمًا ۗ وَفِى الْاٰخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيْدٌ ۙ وَّمَغْفِرَةٌ مِّنَ اللّٰهِ وَرِضْوَانٌ ۗ وَمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَاۤ اِلَّا مَتَاعُ الْغُرُوْرِ
Artinya: “Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan senda gurauan, perhiasan dan saling berbangga di antara kamu serta berlomba dalam kekayaan dan anak keturunan, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian (tanaman) itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridaan-Nya. Dan kehidupan dunia tidak lain hanyalah kesenangan yang palsu.” (QS. Al-Hadid [57]: 20).
وَمَاالْحَيٰوةُ الدُّنْيَاۤ اِلَّا لَعِبٌ وَّلَهْوٌ ۗ وَلَـلدَّارُ الْاٰخِرَةُ خَيْرٌ لِّـلَّذِيْنَ يَتَّقُوْنَ ۗ اَفَلَا تَعْقِلُوْنَ
Artinya: “Dan kehidupan dunia ini, hanyalah permainan dan senda gurau. Sedangkan negeri akhirat itu, sungguh lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Tidakkah kamu mengerti?” (QS. Al-An’am [6]: 32).
Sebagian ulama mengatakan bahwa yang dimaksud dengan “la’ibun” adalah permainan yang mengalihkan perhatian dari yang bermanfaat kepada yang tidak bermanfaat. Sementara itu “lahwun” adalah mengalihkan perhatian dari yang serius menjadi canda-bercanda.
Namun demikian, tidak semuanya permainan dan senda gurau tercela. Karena sebagian juga ada yang terpuji seperti permainan (berkompetensi) dalam hal ilmu pengetahuan. Wallahu a’lam bisshawaab.